Artikel

Nasib Mujur Maling Kambing Ditangan KH. Shiddiq Berjan

PURWOREJO, Himawan.org – Seorang maling umumnya akan babak belur dihajar massa jika tertangkap tangan tengah melancarkan aksinya. Namun tidak bagi maling yang tertangkap basah tengah menggasak kambing milik KH. Shiddiq, Berjan Purworejo.

Nasib mujur kawanan maling kambing itu diceritakan langsung oleh KH. Imam Zuhdi dan istrinya dalam sebuah wawancara khusus pada tanggal 02, November 2006 silam.

Dikisahkannya, untuk mencukupi kebutuhan keluarga besar dengan 14 anak dari 2 istri, KH. Shiddiq membuka usaha peternakan kambing yang cukup banyak.

Pada suatu ketika, sekitar 20 ekor kambing di kandang ternak milik KH. Shiddiq hampir ludes digasak oleh kawanan maling. Salah satu santri yang saat itu bertugas menjaga keamanan pondok, yakni Kyai Syahrowardi yang tidak lain merupakan ayahanda KH. Imam Zuhdi segera bergerak cepat membekuk kawanan maling kambing tersebut.

Usai ditangkap, kawanan maling kambing itu pun segera dibawa menghadap KH. Shiddiq oleh Kyai Syahrowardi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tak disangka, kawanan maling kambing itu justru disambut hangat

oleh KH. Shiddiq. Bukan dimarahi, apalagi dipukuli, kawanan maling itu lantas disuguhi daging kambing yang sebelumnya hendak mereka curi.

“Wong golek pangan rekoso-rekoso, udan-udan kok malah dicegah,” (Mencari rizki susah-susah, kehujanan, kok dicegah),” kata KH. Shiddiq sembari memerintahkan beberapa santri untuk menyembelih dan memasak kambing untuk disuguhkan kepada kawanan maling.

Tak hanya disuguhi daging kambing, kawanan maling itu juga diberi bekal secukupnya oleh KH. Shiddiq sesaat sebelum mereka disuruh pulang ke rumahnya masing-masing.

Sebelumnya, KH. Shiddiq telah mengetahui bahwa kawanan maling kambing tersebut melakukan aksi pencurian itu lantaran terjepit oleh desakan faktor ekonomi.

Kisah maling kambing ini juga kerap diceritakan langsung oleh cucu KH. Shiddiq, putra KH. Nawawi, yakni KH. Achmad Chalwani, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo pada berbagai kesempatan dalam majelis pengajian.

Dari kisah tersebut, KH. Shiddiq telah memberikan tauladan kepada kita semua, betapa kearifan dan kebijaksanaa bisa menjelma seluas samudera dalam harmoni alam raya.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *