#pd-himawan

Hj Ashfa Khoirunnisa: Aktif Berorganisasi di Pesantren Bentuk Mental Kepemimpinan

KEBUMEN, himawan.org– Pertemuan rutin Himpunan Alumni dan Walisantri An-Nawawi (HIMAWAN) Kebumen digelar di Desa Kaliputih, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah pada Sabtu (25/7/2026).

 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum memperkuat komitmen para alumni dalam mengamalkan ilmu, mengabdi kepada organisasi, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan zaman.

 

Dalam kegiatan tersebut, para alumni mendapatkan nasihat dari Hj. Ashfa Khoirunnisa’ dan KH. R.M. Maulana Alwi. Keduanya menyampaikan pesan yang menekankan pentingnya membangun karakter, menjaga amalan, serta mengutamakan pengabdian dibanding mengejar jabatan.

 

Hj. Ashfa Khoirunnisa’ mengingatkan para alumni agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Menurutnya, generasi muda harus terus belajar dan membuka diri terhadap berbagai peluang yang dapat meningkatkan kapasitas diri.

 

“Kita harus mengikuti perkembangan zaman dan memahami apa saja yang bisa dilakukan agar tetap berkembang,” ujarnya.

 

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Hal yang paling penting adalah membangun kepribadian atau personality yang kuat sejak masih berada di lingkungan pesantren.

 

Ia mendorong para santri untuk aktif mengikuti organisasi selama menempuh pendidikan di pesantren. Menurutnya, pengalaman berorganisasi menjadi bekal penting dalam membentuk mental kepemimpinan dan kemampuan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

 

“Saya selalu menekankan pentingnya personality. Kalau ikut organisasi di pesantren, maksimalkan. Ketika saya mengikuti organisasi, saya benar-benar menjalaninya dengan maksimal. Dari situlah mental saya terbentuk,” katanya.

 

Pengalaman tersebut, lanjutnya, menjadi modal berharga ketika menghadapi berbagai kegagalan maupun tantangan dalam kehidupan.

 

“Dari organisasi itulah, saat saya jatuh mental organisasi yang membuat saya bisa bangkit kembali,” ungkapnya.

 

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kapasitas alumni, Hj. Ashfa Khoirunnisa’ juga menyampaikan rencana menghadirkan webinar bertema kewirausahaan (entrepreneurship). Kegiatan tersebut diharapkan mampu membekali alumni dengan wawasan dan keterampilan dalam mengembangkan usaha secara mandiri.

 

Sementara itu, KH. R.M. Maulana Alwi mengaku bersyukur karena para alumni masih menjaga berbagai amalan dan ijazah yang telah diberikan selama berada di pesantren oleh KH Achmad Chalwani.

 

“Saya senang para alumni masih melakukan amalan dan ijazah. Yang saya khawatirkan justru jika para alumni sudah tidak percaya lagi kepada doa-doa,” tuturnya.

 

Menurutnya, ilmu yang diperoleh seseorang tidak berhenti pada proses belajar. Ilmu harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebelum disampaikan kepada orang lain.

 

“Ilmu itu dipelajari, kemudian dilakukan atau diamalkan, baru setelah itu diajarkan. Urutannya harus seperti itu,” tegasnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, KH. Maulana Alwi juga mengajak para alumni untuk memanfaatkan setiap kesempatan mengabdi, termasuk apabila diberi amanah dalam struktur Nahdlatul Ulama (NU).

 

Ia menilai jabatan bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi organisasi dan masyarakat.

 

“Kalau ada kesempatan mengabdi di struktural NU, maksimalkan. Kalau tidak ada kesempatan juga tidak masalah. Yang terpenting adalah pengabdian di atas jabatan. Sebisa mungkin kita ikut menghidupkan NU,” pesannya.

 

Selain berbicara mengenai organisasi, KH. Maulana Alwi juga mengingatkan bahwa ukuran kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Karena itu, alumni diminta tidak membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

 

“Patokan sukses itu relatif,” ujarnya.

 

Ia juga menyinggung pentingnya membangun keluarga yang harmonis sesuai dengan kondisi dan kesepakatan masing-masing pasangan.

Menurutnya, tidak ada satu pola yang mutlak dalam menjalankan kehidupan rumah tangga.

 

Ada keluarga yang kebutuhan ekonominya dipenuhi oleh suami, ada yang ditopang istri, dan ada pula yang keduanya bekerja bersama.

 

“Bentuk keluarga yang ideal itu disesuaikan dengan kebutuhan dan hasil kompromi. Ada yang laki-laki bekerja, ada yang perempuan bekerja, dan ada juga yang keduanya bekerja. Semua bisa berjalan dengan baik selama saling memahami tanggung jawab masing-masing,” kata KH. Maulana Alwi.

 

 

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *